Alhamdulillah, telah lahir putra dari Muhammad Fikri Aziz, hari Senin 20 Oktober 2008 Pukul 12. 04 WIBdengan berat 3,3 Kg dan Panjang 50 cm di rumah sakit Ananda Bekasi. Semoga menjadi kebanggaan keluarga dan menjadi anak yang sholeh.
Barakallah
Jakarta Siap Memimpin KAMMI
Jakarta Siap Memimpin KAMMI
Bismillahirohmanirrohim
|
Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Segala puji bagi Allah SWT yang telah menegakkan langit tanpa tiang, sholawat serta salam kepada baginda tercinta Rosululloh SAW seorang tokoh panutan sekaligus panglima dakwah kita yang tiada lapuk ditelan zaman hingga hari akhir tiba.
Cita-cita perubahan sedang mengalami stagnasi. Tak disangka, ternyata dalam kondisi kebekuan mencari solusi terbaik bagi bangsa ini, kondisi kultur sosial masyarakat kita cenderung berubah cepat. Artinya kondisi bangsa hari ini dihadapkan pada permasalahan besar; yaitu aspek sosial tidak sejalan dengan aspek politik dengan pilihan kata yang lebih cermat dapat kita bahasakan sebagai tidak sejalannya logika politik ( elit & kekuasaan ) dengan logika sosial ( masyarakat & kesejahteraan ).
Disparitas antara dua aspek diatas adalah bentuk dari kecelakaan sejarah yang secara jujur harus diakui bahwa kita jugalah yang menyebabkan hal itu terjadi.. Melihat kebimbangan ini seharusnya memaksa kita untuk semakin berhitung tentang siapa yang paling diuntungkan dan pihak mana yang mengalami kerugian.. Situasi anomali ini makin mempertegas bahwa saat ini mayoritas masyarakat menjadi korban dari nafsu serakah segelintir orang yang haus akan kekuasaan. Fenomena seperti ini terkesan menjadi kebiasaan yang lumrah tanpa ada kesadaran dan perlawanan bahwa sesungguhnya mayoritas rakyat kita sedang dijajah.
Maka dari itu ummat harus disadarkan, karena itu tugas sejarah yang harus kita pilih dalam jalan perjuangan sebagai entitas intelektual muslim. Kegemilangan sejarah islam telah memberi kabar baik buat kita untuk melakukan hal itu. Pencerahan yang dilakukan oleh Rosululloh dan para sahabat serta tabiin adalah upaya memperluas kesadaran ummat. Kesadaran akan Rabbnya, kesadaran akan orisinalitas ajaranNya, kesadaran akan hakikat dirinya sebagai manusia. Begitupula ketika para filusuf memulai perumusan definisi filosofisnya terhadap aspek sosial dan politik, maka terjadi konklusi tentang cita-cita civil society adalah ketika masyarakat telah sadar akan hak-haknya dan sadar akan perlawanan jika hak-hak itu tercerabut dari dalam diri masyarakat itu.
Oleh karena itu kesenjangan ini harus diakhiri, sebagai unsur perubah kita harus secara konsisten memutus garis demarkasi ini. Untuk itu yang menjadi pokok pikiran bagi kerja besar ini adalah:
1. Kesadaran Ruhani
Ini adalah hal mutlak yang harus dimilki oleh gerakan ini baik internal kadernya maupun hal-hal yang menjadi pengejawantahan program kerja dan agenda gerakan kita. Kesadaran ruhani yang mengantarkan kita pada esensi perjuangan dan tanggung jawab kita sebagai seorang muslim, serta kesadaran inilah yang menjadi manhaj asasi (konsep dasar) dari titik mana kerja besar yang kita lakukan akan bermula.
Secara internal kita akan senantiasa berbicara tentang kualitas kader hari ini, dan merujuk dengan apa yang telah difirmankan oleh Allah SWT dalam banyak ayat, bahwa kesalehan individu berbanding lurus dengan kesalehan sosial, dengan kata lain hasil dakwah yang muntijah (produktif) pasti tidak akan kita dapatkan jika pribadi masing-masing kita memiliki masalah dalam hal kedekatan kepada Allah ( taqorrub ilallah ). Hal lain yang harus kita perhatikan secara seksama adalah persoalan kesadaran ruhani ummat secara makro ( kesalehan sosial ), kita berharap kerja besar ini memiliki orientasi kearah sana walaupun pada kenyataannya masih harus menuntut kita untuk menanti hasil itu terwujud.
2. Kesadaran Intelektual
Kesadaran intelektual adalah tradisi Salafus Sholihin hingga Ulama Kholaf. Peranan kita dalam membangun ide dan gagasan serta pemahaman realitas objektif ditengah ummat memberikan kontribusi tersendiri bagi peradaban ( Tamadun ) yang akan kita capai. Intelektual muslim atau muslim yang intelektual harus menyentuh aspek yang esensial, pembacaan kita terhadap realitas harus senantiasa disandarkan pada frame dasar kita dalam berfikir. Menurut Dr. Hasan Turabi dalam buku Fiqh Demokratis, setidaknya ada tiga hal yang menjadi titik kelemahan pemikiran islam; Pertama, pemikiran islam lambat laun tercerabut dari prinsip-prinsip agama ( ushul ad-diin ) yang kekal. Kedua, pemikiran islam terpisah dari ilmu pengetahuan rasional ( al-ma’arif al-aqliyyah ). Ketiga, pemkiran islam tidak mampu menyesuaikan diri dengan realitas kehidupan manusia dan hanya menjadi pemikiran semata. Untuk itu tradisi intelektual (membaca,menulis,diskusi) harus tumbuh subur dalam gerakan ini, kembangkan dialetika berpendapat kader, arus deras intelektual jangan sampai terhalangi karena bisa menjadi bom waktu bagi gerakan kita sendiri, yang harus kita lakukan adalah upaya kanalisasi dari setiap gagasan yang muncul. Selain itu kembalikanlah pisau analisa pemikiran kita kepada pisau analisa Alquran dan Hadits, karena sesungguhnya hal inilah yang menjad letak nilai keluhuran yang dimiliki oleh ummat islam dan kegemilangan sejarahnya.
3. Kesadaran Politik
Mari memastikan bahwa saat ini kita berada pada pemahaman yang utuh (syumul) tentang ajaran islam. Itu sebabnya saya mengawali pokok-pokok pikiran ini dengan kesadaran ruhiyyah dan kesadaran fikriyah, karena korelasinya terhadap kedewasaan kader dalam menapaki Tarbiyah. Kesadaran politik adalah sebuah keniscayaan bagi kita yang sedang mengemban tugas sejarah. Didalamnya kita harus memadukan dua unsur yang sudah kita bahas diatas ( Ruh dan Akal ) dan hasil dari penyatuan yang kita lakukan itu adalah menjadikan kita memiliki Intuisi. Ternyata perjuangan politik itu bukan hanya membutuhkan ketajaman Ruh dan kecanggihan akal serta kapasitas pribadi terhadap suatu ilmu, tetapi membutuhkan intuisi yang dalam bahasa sederhana harus memiliki kepekaan terhadap dinamika kondisi dan kemampuan meyakinkan sesuatu, serta penguasaan terhadap persoalan secara detail. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya keangkuhan politik, yang mengalahkan keangkuhan intelektual bahkan keluruhan ruhani. Hal ini pula yang menyebabkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat menjadi kabur. Kebaikan menjadi buruk dan keburukan menjadi baik. Inilah intuisi politik yang menjadikan hampir seluruh bangsa didunia dipimpin oleh seorang politisi dan kalaupun ada seorang militer, intelektual, birokrat, profesional, atau pemuka agama menjadi seorang pemimpin negara pastilah ia juga menguasai intuisi politik, karena ia telah mengalami proses politik yang rumit. Karena itu upaya mengembangkan kesadaran politik adalah upaya untuk menajamkan intuisi politik gerakan , terlebih jika posisioning gerakan ini menjadi sebuah kebutuhan yang harus diraih.
Ketiga aspek ini yang menurut hemat saya harus menjadi titik awal bagi perjalanan besar kita, gerakan ini harus berbasis pada kesadaran karena proyek besar kita adalah memperluas kesadaran ditengah ummat yang sedang mati suri karena tidak memiliki visi peradaban. sebagai penutup saya sangat terkesan dengan apa yang ditulis oleh Imam Syahid Hasan Albana; ”berjuang untuk mewujudkan cita-cita dan membela agama harus memiliki kekuatan jiwa yang dahsyat, tekad yang membaja yang tidak pernah melemah, kesetiaan yang teguh dan tidak tersusupi oleh pengkhianatan, pengorbanan yang tidak terbatas serta penghormatan terhadap ideologi yang diperjuangkan”. Selamat berjuang… Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh Muhammad Fikri Aziz |